Selamat datang di kotak catatan saya,
Ngatmow Prawierow.

Hanya seorang pegawai negeri rendahan yang tidak bernafsu untuk memperebutkan jabatan. Memegang teguh prinsip mengalir bagaikan air dan tak berharap pujian orang lain yang terkadang justru menghanyutkan.
Di sini sekedar ingin berbagi cacian dan makian tentang berbagai hal, berbagai bentuk dan berbagai aspek kehidupan.
Silahkan dicacimaki, silahkan dibenci dan silahkan jika ingin memuji. itu semua hanya demi satu tujuan :
Jadi seorang yang HEBAT, KUAT, MAPAN dan TETAP TAMPAN....

2.28.2012

Suatu pagi bersama pak anggota dewan

Ada sebuah kejadian menarik yang terjadi hari ini di pinggir jalan tepat sebelum pintu gerbang kantor Dinas Pengelolaan Keuangan Daerah Kabupaten Negeribanjir tempat Thomas bekerja. Pagi itu saat dia sedang berangkat bekerja jam 06.15 menit, dia mendapati seseorang berusia renta sedang dimaki-maki oleh seorang pria berpakaian perlente. Tidak jauh dari situ tampak pikulan pisang tergeletak begitu saja di pinggir trotoar sedangkan pisangnya berceceran dimana-mana dan pria tua itu masih juga tertunduk.
Karena tertarik dengan apa yang dilihatnya, suatu keadaan yang jauh dari kata seimbang, maka diapun menghentikan laju Vespa bututnya demi memenuhi hasrat keingintahuannya.

Tiba-tiba ....
Plakk..... pria perlente itu mengayunkan tangannya menampar pria tua yang ada di hadapannya. Thomas terkejut dan bergegas mendekati kedua orang itu.
“ Waduh ada apa ini pak ? “
“ Tidak ada apa-apa mas, Cuma masalah sepele kok “ jawab pria bersetelan jas itu.
“ Sepele kok pakai main tangan pak “ cecar Thomas.
“ Sudah lah pergi saja sana kamu mas, jangan campuri urusan orang “
“ Maaf pak, bukannya mau mencampuri urusan orang. Tapi saya kasihan sama bapak ini. Mbok ya bapaknya ini jangan ditampar seperti itu. Kasihan pak sudah tua...”
“ Saya nggak perduli mas, lihat itu..... karena kegoblokan bapak ini mobilku jadi mbaret dalam banget, lalu siapa yang akan menggantinya. Dia ??? apa dia mampu ??? aku itu sedang pusing. Eh dia malah buat tambah pusing lagi..... “ sahutnya semakin ketus sambil menunjuk sebuah mobil mewah berplat merah yang terparkir sembarangan di pinggir jalan tidak jauh dari tempat kejadian.
“ O masalahnya cuman seperti itu to pak.... tak kira urusan utang-piutang kaya di tivi-tivi”
“ Enak saja kamu ngomong. Kamu tidak tahu siapa saya ?”
“ Lha siapa bapak?”
“ Saya ini anggota dewan ngerti !! Kamu mau macam-macem dengan saya ?”
“ Waduh, maaf pak dewan....bukannya bermaksud apa-apa, tapi setahu saya bukannya mobil yang tergores itu inventaris negara pak ? kok bapak sampai marah-marah seperti itu ?”
“ Pokoknya saya tidak mau tahu anak muda...kalau mau ikut campur kamu saja yang bayar ganti ruginya "
" wah..wah...wah... maaf pak, saya tidak sudi membayar sepeserpun pada bapak. begitu juga dengan bapak ini. Kenapa ? karena anda mendapat mobil itu juga dari uang kami selaku masyarakat. Kamilah yang membeli mobil itu pak. Bukan bapak sebagai anggota yang terhormat. "
" Heh lancang kamu ngomong...memangnya kamu itu siapa berani menggurui saya ? "
" Saya bukan siapa-siapa pak, hanya seorang rakyat jelata yang sedang berdebat kusir dengan seorang pejabat pak. "
" Kurang ajar.....dinas mana kamu ? nanti aku laporkan ke kepala dinas biar tahu rasa kamu... " dengan nada semakin tinggi lelaki perlente itu mengancam.

Thomas tersenyum sebentar. Lalu dengan nada yang menunjukkan tingkat kesabaran tingkat tinggi dia menjawab,
" Monggo pak, Silahkan.... tapi saya juga siap melaporkan bapak kepada media massa. Biar nanti masyarakat luas yang akan menilai dan mengambil kesimpulan terhadap seorang anggota dewan yang katanya terhormat "
" kamu memang anak setan per..."
" bapak saya seorang muadzin di masjid pak. tidak mungkin beliau itu setan " sahut Thomas santai
" Ah... percuma aku nglayani omonganmu. Dasar bocah tidak tahu diri. urusi saja mbahmu itu. Dasar t*i !!!! " bentaknya sambil melangkah pergi.
" Pokoknya tunggu saja akibatnya berani melawan saya !!! " tambahnya sambil menunjuk wajah Thomas sebagai tanda ancaman.

Thomas hanya tersenyum. Setelah mobil mewah itu pergi dia kemudian menghampiri lelaki tua yang sudah terduduk lesu di trotoar. Lelaki itu tampak kebingungan memandangi barang dagangannya yang berserakan di jalan.
" sudah mbah, jangan terlalu dipikirkan. biar nanti saya ganti dagangannya. berapa semuanya ? " tanya Thomas lirih.
" tidak usah mas, kasihan mesnya nanti kalau membayar semua pisang itu. Saya berterimakasih sekali masnya tadi mau membela saya. Saya memang orang kecil mas sudah selayaknya selalu disalahkan..." jawabnya dengan nada pasrah.
" jangan seperti itu mbah, sekarang mbahnya bilang saja berapa semuanya. biar saya ganti dan mbah bisa segera pulang ke rumah untuk istirahat. "
" ya kalau masnya mau ya 78.000 semua. boleh kurang kok "

Hah 78.000 semuanya ? begitu pikir Thomas. Dia kemuadian mengkalkulasi berapa uang yang akan diperoleh lelaki tua di hadapannya hari itu dengan perjuangan yang sangat berat untuk bisa pergi ke pasar kota hanya demi bisa memberi nafkah keluarganya.
Dia tidak bisa membayangkan mengapa seorang anggota dewan yang katanya terhormat, yang hanya dengan duduk mengikuti rapat saja bisa mendapatkan amplop putih berisi minimal 10 lembar uang ratusan ribu, dengan teganya menampar seorang lelaki tua yang lemah tidak berdaya dari semua sisi hidupnya ini.

Diulungkannya selembar uang seratus ribu yang merupakan satu-satunya uang berangka 6 digit di dompetnya. dengan senyum terkembang dia duduk disamping mbah penjual pisang yang sedang sibuk menata kembali barang dagangannya.
" ini mbah saya beli semua."
" wah kalau sebesar ini saya tidak ada kembaliannya mas, yang pas saja "
" sudah mbah, sisanya untuk ongkos mbahnya pulang. Hitung-hitung rejeki mbah "
" Sungguh mas ? ya Allah terimakasih sekali mas, saya tidak bisa membalas semua ini pada masnya. Semoga Allah yang akan membalas semua kebaikan mas...." jawab lelaki itu sambil memeluk Thomas. Matanya berkaca-kaca.
" Amin mbah...doakan saya tetap bisa hidup dengan tenang dan damai ya mbah..." sahut pemuda tambun ini sambil tersenyum.
" Oya mbah, pisangnya saya bawa ke kantor dulu ya mbah. sSekarang mbah pulang, terus nanti istirahat. Saya mau masuk kantor dulu...itu kantor saya. "
" Iya mas hati-hati dan terimakasih sekali atas kebaikan mas... "

Thomas tersentak kaget ketika lelaki tua itu menarik tangan kanannya untuk dicium. Seketika itu juga dia menariknya dan kemudian meraih dua buah plastik besar yang sudah penuh berisi pisang. Dia pun segera beranjak pergi.

"mari mbah saya duluan. Nanti pulangnya hati-hati dijalan ya mbah. "

Sambil berjalan menuju Vespa butut berwarna pink yang terparkir di gerbang kantornya, ada dua hal yang bergolak dipikiran pemuda yang satu ini, yang pertama adalah betapa bobroknya mental para anggota dewan yang katanya terhormat di masa ini, dimana mereka sudah tidak lagi malu menjadi "artis" pemberitaan di media massa dan juga tentang apa yang baru saja dialaminya. Hati nurani mereka seolah sudah tidak ada lagi di tempatnya dan entah digadaikan kemana.
Hal kedua yang dipikirkannya adalah apa yang akan terjadi pada karirnya nanti seandainya anggota dewan yang katanya terhormat tadi benar-benar serius dengan ucapannya dan bagaimana cara dia nanti siang membeli bensin untuk bisa pulang kerumah sementara satu-satunya isi dompetnya sudah diserahkannya kepada seorang penjual pisang..... ah entahlah......

2.24.2012

Muslimah......Amin.......

Amin...tiba-tiba terdengar suara kecil yang sempat mengagetkan sholatku.

Aku terkejut dan sangat tidak menyangka kalau Zi ternyata sudah mulai bisa menjalankan ibadah wajib kaum muslim itu.

Memang pada saat sholat maghrib aku berusaha agar bisa sholat berjamaah dengan istriku. Dan secara otomatis, Zi yang pada saat seperti itu tidak ada yang menjaganya ikut berada di mushala rumah kami.

Awalnya memang dia hanya melihat ayah dan bundanya sholat saja, lambat laun dia mulai minta mengenakan mukena (walaupun sebenarnya hanya jilbab terusan milik mbah putrinya yang sudah tidak terpakai namun karena besar maka bisa menutupi hampir seluruh tubuh Zi yang mungil - persis seperti mukena asli), kemudian dengan semakin bertambahnya daya pikir lama kelamaan setelah sholat selesai ikut nimbrung di pangkuan bundanya untuk berdoa, lalu hinggap di sarung ayahnya yang sedang mengaji untuk "belajar mengaji", dan yang terakhir ini adalah IKUT SHALAT BERJAMAAH lengkap dengan mukena dan dari awal takbir sampai dengan tahyat akhir.....


Subhanallah....

Aku menangis dalam shalat malamku memohon kepada - Nya. Memohon ampunan bahwa akhir-akhir ini aku telah melalaikan menelantarkan dan tidak memperhatikan titipan - Nya yang sungguh lucu ini. Aku memohon ampunannya atas keterpakuan diriku pada pekerjaanku sehingga untuk sementara waktu melalaikan tugasku sebagai seorang ayah dan suami....

Zi sekarang telah hampir 2 tahun (28 April nanti dia berulang tahun yang ke -2) dan perkembangannya alhamdulillah sungguh diluar dugaanku. Dia sudah mulai bisa berpikir apa dan kenapa, dia sudah mulai bisa menyarankan sesuatu hal yang bahkan kami selaku orang tua tidak memikirkan hal itu, dan yang jelas dia sudah hafal Surat Al Fatihah dan doa untuk orang tuanya.....

Dalam doaku aku selalu memohon kepada -Nya agar semoga saja aku bisa mengantarkan putri cantikku ini menjadi seseorang yang lebih sempurna iman dan akhlaqnya, lebih cantik lahir dan bathinnya serta Solihah selama-lamanya.....Amin......

Pelanduk tertanduk

Hari Sabtu kelabu. Itu yang sedang dipikirkan Thomas saat ini. Dia yang hanya seorang staff biasa di Dinas Pengelolaan Keuangan Daerah Kabupaten Negeribanjir sedang merasakan kegalauan yang luar biasa. Ini terjadi akibat adanya isu bahwa akan ada "kabar gembira" alias rejeki tak terduga yang akan diberikan kepada segenap warga masyarakat kantor dinas dimana dia bekerja.

Kenapa dia sampai sebegitu galaunya ?

Ternyata masalahnya adalah sama seperti ketika ada harta karun pada kesempatan sebelum-sebelumnya. Semua orang pasang badan untuk berusaha menonjolkan diri menjadi yang terdepan untuk terlihat bekerja oleh bapak Kepala Dinas. Hanya saja posisi kali ini Thomas Fatah dalam keadaan yang kurang menguntungkan (meskipun sebenarnya dalam kondisi normal sekalipun dia akan merasakan hal yang sama juga......tidak tahu meski bagaimana)

Ceritanya berawal ketika pada hari Senin di minggu yang sama ada pemeriksaan dari Badan Pemeriksa Keuangan Daerah alias BPKD. Nah para anggota tim BPKD yang kebetulan juga masih muda (dan bersemangat juga untuk urusan mencari nama di kantornya sana) itu langsung mengumpulkan semua bendahara kegiatan internal Dinas Pengelolaan Keuangan Daerah Kabupaten Negeribanjir, termasuk juga Thomas.

Setelah melalui pengarahan dan permintaan yang super banyak disana-sini, akhirnya meeting itupun selesai dengan satu kesimpulan yang muncul di kepala Thomas. BPKD kali ini ngeri.
Acara kemudian dilanjutkan dengan agenda pemeriksaan brankas arsip dan lemari besi atau filling kabinet yang ada di lingkungan kantor Tanpa berprasangka apapun, dengan senang hati dan kepercayaan diri yang tinggi Thomas membuka kunci brankas yang menjadi tempat penyimpanan berkasnya.

Dan terjadilah apa yang semula sama sekali tidak terlintas di pikiran pemuda bertubuh agak tambun ini. Didalam brankas ternyata ada satu bendel amplop berisi uang.

..........................

" Waduh maaf ya mas, kemaren saya lupa ngambilnya. itu kan uang yang seharusnya untuk pengurus keuangan semua kantor dinas. nah uang-uang itu adalah punya merka yang belum datang kesini untuk mengambilnya... " Jelas Pak Jaelani mencoba menjelaskan pada Thomas.
Pagawai yang sangat agamis ini sebenarnya adalah pegawai senior di kantor dengan masa kerja sudah lebih dari 20 tahun. Tapi satu hal yang kemudian menjadi "cacat" nya adalah bahwa dia sekarang sudah mulai terkena JMB syndrome alias Sindrom Jenuh Membabi Buta pada pekerjaannya.

Thomas hanya bisa diam dan tak mampu berkata apa-apa. Matanya hanya beralih pada kalender berwarna-warni di ujung ruangan. Gambar seorang gadis berpakaian merah menantang seolah sedang tersenyum mencibirnya. Mungkin andaikan benar-benar gadis itu ada di sini dia akan berkata,
" Oalah mas, wong pekerjaan yang tidak ada untungnya kaya gitu kok dulu sampai mati-matian usahanya. Mending pekerjaan kaya aku saja yang hanya tinggal pose, jepret lalu bayaran...kalau pengen duit lebih ya tinggal lobi bos, pergi maen trus enak-enakan sama bos....duitnya tambah banyak, dapatnya enak, hasrat terpenuhi...hihihi....."

Thomas menghela nafas panjang. Ingatannya kembali pada 3,5 tahun yang lalu saat dirinya masih berstatus karyawan swasta. Saat itu, dengan susah payah dia mencari alasan yang tepat untuk keluar dari pekerjaannya sebagai interior disainer dan konsultan proyek dengan gaji yang 5 kali gajinya sekarang, hanya demi sebuah pekerjaan dengan status sosial yang cukup tinggi dimata masyarakat.

" Anda ini bagaimana sih mas, gitu saja kok nggak bisa dipercaya... " tanya Ibu Sekretaris Dinas dengan nada ketus.
" Maksudnya bagaimana bu ? tidak bisa dipercaya bagaimana ? " jawab Thomas
" Anda itu kan dititipi uang seperti itu, kenapa tidak diamankan dulu sebelum ada pemeriksaan ? bukankah sudah menjadi tanggung jawab anda sebagai pemegang kunci untuk selalu mengawasi dan mengontrol apa yang ada di lemari anda ? " sahut wanita berbadan besar dan berkacamata itu dengan nada yang semakin keras.
" waduh bu.... itu sebenarnya sudah saya usahakan semaksimal mungkin. Tapi itu kan titipan dari Pak Jaelani yang sedianya untuk honor pengurus keuangan se-Kabupaten tapi belum diambil. Saya juga tidak menyadari kalau uang itu masih ada di dalam sana. soalnya beberapa waktu yang lalu Pak Jaelani meminjam kunci saya katanya untuk mengambil uang....kan berarti uang itu bu " jawaban Thomas kali ini bernada agak tinggi.
" Ah itu kan alasan kamu saja untuk melepaskan kesalahan dari tanggung jawab. Pokoknya saya tidak mau tahu, nanti kamu lakukan saja apa permintaan BPKD. dan ingat jangan sampai permasalahan ini membawa dampak buruk bagi nama kantor dan bapak kepala dinas " sahut bu wakil kepala dinas sambil beranjak menyalami seseorang bertubuh kecil yang baru saja masuk ke ruangan itu.

Seseorang yang baru masuk itu adalah seorang pria setengah baya berambut penuh uban dengan perawakan kecil namun atletis. Sosoknya yang tegap untuk ukuran orang yang sudah berumur hampir setengah abad itu sangat jelas menunjukkan bahwa dia adalah seorang olahragawan.

" Bagaimana mas Thomas ? " tanya pak Kepala sambil mengulurkan tangan tanda mengajak bersalaman.

Thomas tidak menjawab. Bukan karena niat tapi karena bingung mau menjawab apa pertanyaan yang klise ini. Setelah bersalaman, buruh negeri yang juga desainer website ini kemudian menceritakan kronologis kejadian yang menimpanya kepada seseorang yang yang dianggapnya akan memberikan jalan keluar dan segelas air bagi pikirannya yang seolah sedang tersesat di padang pasir Ghobi.

" maaf pak Kepala, yang ada dalam benak saya sebenarnya adalah harapan bahwa saya akan setidaknya dibantu oleh atasan untuk menjelaskan kepada para pemeriksa dari BPKD itu dan dijembatani bagaimana cara menyelesaikannya secara administratif. Kasus ini sebenarnya sangat sepele andai saja dari awal tidak ada yang terlalu ketakutan, terlalu panik dan terlalu berusaha menimpakan kesalahan kepada saya yang berposisi sebagai pelanduk diantara gajah. Saya disini sebagai pribadi mohon kepada bapak selaku atasan tertinggi saya untuk setidaknya menandatangani Surat Keterangan bermaterai yang saya buat yang isinya adalah penjelasan kronologis mengapa uang itu ada di brankas saya. Dan selaku pemegang kunci saya bahkan tidak berani menyentuhnya sekalipun.... "

Bapak Kepala Dinas menatap tajam wajah Thomas yang berkeringat dingin. Tampak wajah kebingungan di situ. Kebingungan akan suatu hal yang sebenarnya tidak perlu terlalu dipikirkan.
Setelah menarik nafas dalam-dalam selarik katapun muncul dari mulutnya yang berkumis dan berbau tajam rokok kretek.
" Mas, asal kamu tahu saja. Itu adalah kesalahan kamu secara personal. Dan saya tidak tahu menahu permasalahan ini. Jadi sebaiknya kamu menghadapi BPKD saja sendiri karena hal ini sudah diluar tanggung jawab saya. "

" Oya mas, besok kabar gembiramu berarti dipotong 10 % karena kelalaian ini..."

Dan matahari yang dinantikan Thomaspun urung terbit. Dunia kembali gelap.

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More